Final Fantasy X-2 (FF X-2) bacanya Khayalan Terakhir yang ke Sepuluh bagian Dua :). Sebuah game untuk konsol PS2 yang diproduksi oleh SquareEnix pada tahun 2007.

Untuk diketahui, Final Fantasy I, II, III sampai dengan XIV (empat belas) --yang sudah rilis hingga tahun 2013-- tidak berhubungan sama sekali. Baik dari segi cerita, tokoh, tempat dan seterusnya. Final Fantasy I-IX untuk konsol NES, SNES, Gameboy dan PS1. Sedangkan Final Fantasy X-XII untuk konsol PS2 dan XBox.


Pasti ada yang berbeda dengan seri yang satu ini, sampai dibuat lanjutannya. Apa ya? FF Mania pasti punya banyak jawaban untuk pertanyaan ini.Tapi dari pengamatan saya, penyebab utamanya adalah : banyaknya konsumen yang menangis tersedu-sedu ketika berhasil menamatkan game ini (Romantic Sad Ending). Dimana High Summoner Yuna harus terpisah ruang dan waktu (dalam arti yang sebenarnya) dengan tokoh utama -- Tidus. Ya, game ini dikenal semacam Romeo-Juliet-dari jepang-versi game. Padahal keduanya belum sempat mengutarakan perasaan masing-masing. Ketika tubuh Tidus mulai memudar secara perlahan-lahan, kita hanya bisa melihat gerakan bibir Yuna membentuk kata 'aisitheru'. Para gamer seluruh dunia Haqqul Yakin bahwa itulah ucapan dari gerakan bibir Yuna tersebut.


Karena kisah romantis dalam game ini menjadi buah bibir para gamer RPG di seluruh dunia, tidak mengherankan jika kemudian banyak kaum Hawa yang ikut memainkannya. Maklum, jarang-jarang ada game petualangan yang romantis..

Wanita mana yang tidak terkesan dan penasaran jika banyak laki-laki yang mengaku menangis termehek-mehek ketika memainkan sebuah Game 3D sampai selesai?

Tingginya permintaan sekuel dari gamer Asia Timur, Eropa Barat dan Amerika Utara (maklum daya belinya tinggi), SquareEnix tak tanggung-tanggung, mereka memenuhi permintaan konsumen sampai ke level tertinggi. Berhubung FF X banyak dimainkan oleh kaum Hawa, game yang terkenal Maskulin ini berubah menjadi game yang sangat Feminim. Bahkan saya takut menjadi bencong (maaf bagi yang tersinggung) ketika memainkan FF X-2 selama satu minggu penuh. Tiga tokoh utama dalam game ini semuanya wanita--Yuna, Rikku dan Paine. Dan tak ada satu tokoh pria pun yang dapat kita kendalikan melalui stick PS2. Sudut pandang game ini pun melihat dunia dari mata Yuna yang amat sangat Feminim.

Maaf, seganteng apapun kalian... tetap figuran!


Emansipasi Perempuan oleh kaum feminisme memang bertujuan untuk menyetarakan posisi perempuan dengan laki-laki dalam segala bidang. Tapi entah kenapa, ujung-ujungnya memperoleh hak untuk memperlihatkan buah dada, pantat dan paha. Yuna CS pun demikian adanya. Yuna yang ketika di Final Fantasy X cukup sopan dengan pakaian mirip kimono, berubah menjadi Yuna yang serba 'all out' di FF X-2. Simpelnya begini, karena FF X sangat maskulin, SquareEnix memutuskan bahwa Yuna harus berpakaian sopan, karena laki-laki  sejatinya mendambakan wanita yang lembut, cantik, dan... sopan.

Diluar dugaan mereka, ternyata FF X banyak dimainkan oleh kaum hawa dan simpatisan feminisme, yang menuntut ada kelanjutan kisah cinta Tidus dan Yuna. SquareEnix pun mengubah karakter Yuna dan cara berpakainnya, dan itu sudah tepat, karena tidak dapat dipungkiri bahwa indikator yang paling mudah terdeteksi untuk kesetaraan gender adalah: hot-pants dan kawan-kawan.

Yuna di Final Fantasy X

Yuna di Final Fantasy X-2










2 comments:

MRaviPutra mengatakan...

ff4 kan ada.sekuel

Rizal Ma'ruf Amidy Siregar mengatakan...

maaf, postingan lama. ga di update....

Posting Komentar

Ngeblog Sejak © Mei 2013

Powered by : Blogger