Apakah kita benar-benar mencintai Allah? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan menggunakan indikator tertentu. Apakah kamu pernah jatuh cinta, sahabatku? Kenanglah kembali bagaimana tingkah lakumu ketika jatuh cinta. Ketika kamu melewati rumah si pujaan hati, kamu sudah merasakan rasa bahagia yang luar biasa hanya dengan melihat sandalnya ada di depan rumah. Karena keberadaan sandalnya membuatmu mengetahui bahwa si dia sedang ada di rumah.

Analogi sederhana ini menjelaskan bahwa kita sering mengekspresikan rasa cinta kepada yang kita cintai dengan hal-hal yang berhungan dengan keberadaannya. Begitu juga dengan cinta kepada Allah. Jika kamu mencintai Allah, maka mustahil kamu membenci ciptaan-Nya. Tidakkah semua yang ada dalam realitas fisik kita adalah ciptaan-Nya? Komputer tercanggih sekalipun diproduksi oleh manusia dengan menggunakan bahan baku dari ciptaan-Nya. Dengan demikian, membenci komputer adalah mustahil bagi pecinta Allah yang sejati, apalagi membenci sesama manusia.

Rasulullah hanya berperang dengan sifat defensif, untuk mempertahankan agama Allah. Sejarah membuktikan, jika Rasulullah dan para sahabat keluar sebagai pemenang, maka tawanan perang diperlakukan dengan sangat baik. Bukankah kisah Rasulullah mengunjungi seorang wanita yahudi yang sedang jatuh sakit, padahal ia selalu menistakan Nabi Muhammad, begitu terkenal?

Ijinkan saya membuat dialog imajiner antara Rumi dengan sayuran yang ingin dipetiknya untuk dikonsumsi. Maka Rumi berkata, "wahai sayuran, ijinkan aku memetik sebagian dirimu, karena meskipun engkau juga ciptaan Allah yang aku cintai, tapi aku tidak bisa bertahan hidup jika perutku selalu kosong. Insya Allah intisarimu akan menjadi bagian diriku. sehingga jika kekasih kita yang maha indah itu memperkenankan aku bertemu dengan-Nya, sejatinya engkau juga bertemu".

Sahabatku, tempuhlah jalan cinta. Jadilah pemulung hikmah, bukan penabur kebencian.

Yogyakarta, 23 April 2019

0 comments:

Posting Komentar

Ngeblog Sejak © Mei 2013

Powered by : Blogger