I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.1.1.
Pasar
Modal Indonesia
Krisis
moneter pada akhir tahun 1997 mempengaruhi minat investor untuk melakukan
investasi pada perusahaan-perusahaan publik di Indonesia. Namun awal tahun 2000-an terlihat tanda-tanda pemulihan
perekonomian. Perbaikan pada indikator-indikator makro ekonomi dan moneter yang
menuju ke arah pemulihan ekonomi, pengaruhnya terlihat pada peningkatan
aktivitas di pasar modal dalam negeri. Dari
data yang dihimpun oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), terlihat
peningkatan jumlah perusahaan (emiten) yang mencatatkan sahamnya di pasar modal
maupun jumlah saham yang diperdagangkan.
Tabel 1. Perkembangan
Pasar Modal Indonesia Sejak 1995–2009
Tahun
|
Jumlah Emiten
|
Jumlah Saham (milyar)
|
IHSG
|
1995
|
248
|
11,11
|
514
|
1996
|
267
|
25,34
|
637
|
1997
|
306
|
51,46
|
402
|
1998
|
309
|
62,72
|
398
|
1999
|
321
|
714,46
|
677
|
2000
|
347
|
811,68
|
416
|
2001
|
379
|
826,77
|
392
|
2002
|
401
|
876,51
|
425
|
2003
|
411
|
905,97
|
692
|
2004
|
424
|
922,13
|
755
|
2005
|
432
|
963,70
|
1.150
|
2006
|
444
|
1.034,52
|
1.805
|
2007
|
468
|
8.241,04
|
2.746
|
2008
|
485
|
8.399,19
|
1.355
|
2009
|
497
|
8.422,66
|
2.534
|
2010*
|
500
|
8.484,50
|
2.925
|
Sumber: Bapepam, 2010
*) sampai april 2010
Pada Tabel 1
dapat dilihat terjadinya peningkatan yang signifikan pada jumlah emiten yang
mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia kecuali pada tahun 1997 dan 1998,
di mana terdapat perkembangan yang relatif stagnan pada pasar modal Indonesia
ditelaah dari penambahan jumlah emiten, saham yang diperdagangkan dan Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini
dapat dimengerti karena pada kedua tahun tersebut Indonesia mengalami krisis
moneter yang sangat mempengaruhi kondisi ekonomi nasional.
Perkembangan
nilai kapitalisasi pasar baik di Bursa Efek Jakarta (BEJ) maupun di Bursa Efek Surabaya
(BES) memperlihatkan kondisi yang cukup menggembirakan sejak awal tahun 2000-an,
sebagaimana terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perkembangan
Nilai Kapitalisasi Saham BEJ dan BES tahun 1995-2007
Tahun
|
BEJ
|
BES
|
||||
Jumlah Emiten
|
Jumlah Saham (Milyar)
|
Nilai (Trilyun)
|
Jumlah Emiten
|
Jumlah Saham (Milyar)
|
Nilai (Trilyun)
|
|
1995
|
238
|
45,79
|
152,25
|
201
|
39,63
|
158,67
|
1996
|
253
|
77,24
|
215,03
|
209
|
66,80
|
191,57
|
1997
|
282
|
135,67
|
159,93
|
222
|
118,47
|
141,64
|
1998
|
288
|
170,55
|
176,73
|
222
|
147,67
|
157,86
|
1999
|
277
|
846,13
|
451,81
|
205
|
802,57
|
407,72
|
2000
|
287
|
1.186,31
|
259,62
|
205
|
1.117,38
|
225,80
|
2001
|
316
|
884,19
|
239,27
|
205
|
772,35
|
197,90
|
2002
|
330
|
939,54
|
268,27
|
205
|
836,67
|
228,07
|
2003
|
333
|
829,36
|
460,36
|
210
|
724,57
|
404,95
|
2004
|
331
|
656,45
|
679,95
|
206
|
526,05
|
605,39
|
2005
|
336
|
712,98
|
801,25
|
207
|
531,83
|
695,56
|
2006
|
344
|
924,49
|
1.249,07
|
205
|
646,92
|
1.082,72
|
2007*
|
354
|
1.064,26
|
1.913,20
|
204
|
706,10
|
1.548,58
|
Sumber: Bapepam, 2010
*) sampai akhir Nopember 2007, sebelum BEJ
dan BES disatukan
Selanjutnya pada tanggal 30
Nopember 2007, BES dan BEJ disatukan dan berubah nama menjadi Bursa Efek
Indonesia (www.idx.co.id,
2010). Adapun perkembangan nilai
kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tanggal 1 Desember 2007
sampai akhir April 2010 dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel
3. Perkembangan Nilai Kapitalisasi Saham BEI tahun 2007-2010
Tahun
|
Jumlah Emiten
|
Jumlah Saham (Milyar)
|
Nilai (Trilyun)
|
2007
|
360
|
1.128,17
|
1.988,33
|
2008
|
485
|
8.399,19
|
1.076,49
|
2009
|
497
|
8.422,66
|
2.019,38
|
2010
|
500
|
8.484,50
|
2.263,07
|
Sumber: Bapepam, 2010
1.1.2.
Kontribusi
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Pasar Modal Indonesia
Kapitalisasi
pasar merupakan istilah bisnis yang menunjukkan nilai/harga keseluruhan dari
sebuah saham perusahaan, yaitu harga total yang harus dibayar untuk membeli perusahaan
tersebut. Nilai dan pertumbuhan dari kapitalisasi pasar suatu
perusahaan seringkali menjadi tolak ukur penting dalam keberhasilan atau
kegagalan perusahaan publik (www.wikipedia.org).
Pada tahun 2009,
empat dari sepuluh perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI
merupakan perusahaan BUMN. Keempat perusahaan tersebut adalah PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Keempat perusahaan tersebut
masing-masing menduduki peringkat 1, 4, 5 dan 7 (Bursa Efek Indonesia, 2009). Perkembangan persentase kapitalisasi pasar
perusahaan-perusahaan BUMN di BEI dari tahun 2004 sampai dengan 2009 dapat
dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Persentase
Kapitalisasi Saham BUMN dan Non BUMN terhadap Kapitalisasi Total Bursa Efek
Indonesia tahun 2004-2009
Tahun
|
BUMN
|
Jumlah Emiten
|
Non BUMN
|
Jumlah Emiten
|
2004
|
33,7%
|
13 Emiten
|
66,3%
|
411 Emiten
|
2005
|
35,8%
|
13 Emiten
|
64,2%
|
417 Emiten
|
2006
|
39,2%
|
13 Emiten
|
60,8%
|
431 Emiten
|
2007
|
32,1%
|
13 Emiten
|
67,9%
|
455 Emiten
|
2008
|
35,8%
|
15 Emiten
|
64,2%
|
470 Emiten
|
2009
|
31,6%
|
14 Emiten
|
68,4%
|
566 Emiten
|
Sumber: Bapepam, 2004-2009 ( diolah
)
Dari Tabel 4 diketahui
bahwa persentase kapitalisasi saham BUMN terhadap kapitalisasi total BEI berkisar
antara 31% - 39% dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2009. Menurut Menteri BUMN Mustafa Abubakar pada bulan Juli 2010 BUMN berkontribusi
sebanyak 30 hingga 35 persen dari kapitalisasi pasar BEI (economy.okezone.com,
2010). Dengan demikian, perusahaan-perusahaan BUMN memiliki andil yang cukup
besar jika dilihat dari persentase kapitalisasi saham BUMN terhadap
kapitalisasi total BEI.
Selain
kapitalisasi pasar, indikator-indikator lain yang sering digunakan dalam
menilai saham suatu perusahaan adalah volume perdagangan, nilai perdagangan, dan
frekuensi perdagangan saham. Jika ditinjau dari
nilai perdagangan, Telekomunikasi Indonesia Tbk kembali menjadi yang terbesar
nilainya diantara saham-saham BUMN dan menempati posisi kedua dari seluruh
emiten BEI. Dan jika ditinjau dari frekuensi perdagangan saham, enam dari
sepuluh perusahan dengan frekuensi perdagangan tertinggi merupakan perusahaan
milik negara (Bursa Efek Indonesia, 2009).
Berdasarkan
laporan yang dikeluarkan oleh BEI dalam IDX Fact Book seperti yang diterangkan
di atas, diketahui bahwa saham-saham BUMN memiliki nilai yang baik jika dilihat
dari kapitalisasi pasar, nilai perdagangan, dan frekuensi perdagangan saham. Dengan
demikian, saham-saham BUMN memiliki posisi strategis dalam perkembangan pasar
modal Indonesia di masa yang akan datang.
1.1.3.
Kebutuhan
akan Alat Analisis
Kinerja Keuangan
Kebutuhan
perusahaan terhadap dana dari investor di pasar modal, serta kebutuhan investor
akan return yang menarik dengan
resiko yang dapat diterima, membutuhkan suatu alat analisis yang dapat dipahami
dengan mudah oleh kedua belah pihak. Dimana
dari analisis
tersebut dapat secara jelas menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenarnya.
Alat analisis yang selama ini banyak
digunakan dalam menilai kinerja keuangan perusahaan adalah rasio-rasio tradisional
seperti Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan Return on Investment (ROI). Dalam hal penciptaan nilai, top management dan investor semakin menyadari
keterbatasan rasio-rasio tersebut. Sebagai
ukuran penciptaan nilai, rasio-rasio tersebut mengabaikan biaya modal yang
diinvestasikan untuk menghasilkan laba (Lehn dan Makhija, 1996). Hal
ini mendorong dikembangkannya alat analisis
baru yang dapat melihat bagaimana kemampuan
manajemen perusahaan dalam menciptakan nilai bagi perusahaan yang dapat
meningkatkan kemakmuran pemegang saham, sebagai prinsip pokok dalam manajemen
keuangan (Mirza dan Imbuh, 1999).
Alat analisis
kinerja keuangan yang diharapkan dapat melengkapi alat ukur kinerja keuangan tradisional
adalah Economic Value Added (EVA) dan Market
Value Added (MVA). Pada metode EVA hal yang ditekankan adalah bagaimana
kemampuan perusahaan dalam mengelola modal yang diinvestasikan oleh bondholders dan shareholders. Sedangkan metode MVA menekankan kemampuan perusahaan
dalam meningkatkan kekayaan (wealth)
investor melalui peningkatan nilai perusahaan di pasar modal. Penerapan kedua
metode tersebut telah banyak diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan terkemuka
di Amerika Serikat (Utama, 1997).
1.2. Rumusan Masalah
Keputusan Menteri (kepmen) BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002
tentang Tingkat Kesehatan BUMN, ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap
kinerja Perusahaan BUMN untuk tahun buku yang bersangkutan yang meliputi
penilaian Aspek Keuangan, Aspek Operasional dan Aspek Administrasi. Indikator
aspek keuangan dalam kepmen tersebut adalah rasio-rasio yang bertujuan untuk
menilai likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas perusahaan-perusahaan BUMN. Penilaian
Tingkat Kesehatan BUMN dalam kepmen ini hanya diterapkan bagi BUMN apabila
hasil pemeriksaan akuntan terhadap perhitungan laporan keuangan perusahaan yang
bersangkutan dinyatakan dengan kualifikasi "Wajar Tanpa Pengecualian"
atau kualifikasi "Wajar Dengan Pengecualian" dari akuntan publik atau
Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan.
Kepmen BUMN seperti yang dijelaskan sebelumnya kurang
memadai untuk mengakomodir kepentingan investor dalam menilai kinerja
perusahaan-perusahaan BUMN. Penyebab utama hal tersebut adalah penilaian
tingkat kesehatan BUMN dalam aspek keuangan dilakukan secara parsial.
Likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas dinilai secara terpisah-pisah dan
tidak melihat nilai ketiga faktor tersebut secara keseluruhan. Untuk memenuhi
keinganan investor dalam menilai kinerja keuangan perusahaan BUMN, salah satu
alternatif untuk melengkapi rasio-rasio tersebut adalah EVA dan MVA, khususnya
dalam penciptaan nilai tambah.
Saat ini ukuran
nilai tambah telah mulai banyak digunakan sebagai alat ukur kinerja keuangan.
Alasan di balik ini adalah bahwa kinerja keuangan suatu organisasi bisnis diukur
dari sudut pandang pemegang saham. Kekayaan pemegang saham diukur dalam hal
keuntungan yang mereka terima atas investasi mereka. Nilai tambah merupakan
kekayaan yang dibuat oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Tidak ada
perusahaan dapat bertahan dan berkembang, jika gagal untuk menghasilkan nilai
bagi pemegang saham. Akhir-akhir ini, penciptaan nilai untuk pemegang saham
perusahaan telah diterima secara luas sebagai salah satu tujuan bagi perusahaan.
Penelitian ini menyoroti kinerja keuangan
perusahaan-perusahaan BUMN dengan menggunakan metode EVA dan MVA, khususnya untuk
menjadi dasar pertimbangan tambahan bagi investor dalam menilai tingkat
kesehatan perusahaan BUMN selain dari laporan yang berdasarkan pada Kepmen BUMN
Nomor: KEP-100/MBU/2002. Penelitian ini juga ingin melihat bagaimanakah
hubungan metode EVA dan MVA terhadap return
saham perusahaan-perusahaan BUMN selama periode penelitian. Karena akan menarik
jika diketahui seberapa besar hubungan EVA dan MVA terhadap return saham perusahaan yang diteliti.
Berdasarkan
identifikasi dan pembatasan masalah di atas maka rumusan masalah yang akan
diteliti adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
kinerja keuangan perusahaan-perusahaan BUMN di BEI bila diukur dengan metode
EVA?
2. Bagaimana
kinerja keuangan perusahaan-perusahaan BUMN di BEI bila diukur dengan metode MVA?
3. Bagaimana
korelasi EVA dan MVA terhadap return saham
perusahaan-perusahaan yang diteliti?
1.3.
Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengkaji
kinerja perusahaan-perusahaan BUMN yang terdaftar di BEI bila dianalisa dengan metode EVA.
2. Mengkaji
kinerja perusahaan-perusahaan BUMN yang terdaftar di BEI bila dianalisa dengan metode MVA.
3. Mengkaji
korelasi EVA dan MVA terhadap return saham
perusahaan-perusahaan yang diteliti.
1.4.
Manfaat Penelitian
Hasil
dari penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:
1. Bagi
investor dan peminat pasar modal dapat mengetahui kinerja keuangan perusahaan-perusahaan
BUMN bila ditelaah dari sudut pandang EVA dan MVA .
2. Bagi
perusahaan yang dianalisa dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja keuangan jika menggunakan EVA dan MVA sebagai alat ukur.
3. Bagi
peneliti, sebagai bagian dari proses memperkuat kompetensi aspek manajerial di
bidang manajemen keuangan.
0 comments:
Posting Komentar