Nabi SAW bersabda:
"Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya shalat."
( Dari Malik bin Al Huwairits, riwayat Bukhori )
"Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya shalat."
( Dari Malik bin Al Huwairits, riwayat Bukhori )
TATA CARA SHALAT
A. Niat
Niat adalah
qasod/maksud mengerjakan suatu amal. Tempat niat di dalam hati, tidak ada
hubungannya dengan lidah. Tidak ada dinukil dari Nabi maupun sahabat adanya
lafazh niat.
Bila kita berdiri bermaksud shalat berarti telah
berniat mengerjakan shalat.
Maka melafazhkan niat seperti:
...................اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ
"Aku
Shalat Fardhu Zhuhur empat rakaat................................ "
termasuk
mengada-ada alias "Bid'ah yang jelek" (kata Ibnu Taimiyah). As Said
Sabiq mengatakan bahwa melafazhkan niat berikut dengan memahami maknanya adalah
membebani dan menyusahkan orang yang berniat; sehingga terkadang takbiratul
ihramnya berulang-ulang.
Penulis
menambahkan bahwa hasil jerih payahnya adalah "Nilai shalatnya banyak
berkurang dari yang seharusnya".
B. Berdiri dan Adabnya
Berdiri harus mengarah ke
Kiblat, menundukkan kepala, mengarahkan pandangan ke tempat sujud. (HR. Al
Baihaqi & Al Hakim, dinilai shahih oleh Al Albani).
Jarak antara
kedua kaki ±10 s/d 15 cm, jangan terlalu rapat dan jangan terlalu renggang.
Pada waktu berdiri, dada
mengarah/menghadap kiblat, pandangan ke tempat sujud, hati (qolb) menghadap
Allah SWT.
C.
Takbiratul Ihram
Mengangkat kedua tangan setentang bahu
sambil membaca Takbir (Allohu Akbar). (Shahih Bukhori No. 410, Shahih Muslim
No. 342). Lebih jelasnya mengangkat kedua tangan setentang bahu, ujung jari
setinggi telinga, ibu jari setentang tempat anting-anting/daun telinga bagian
bawah, meluruskan dan merapatkan jari-jari serta menghadapkannya ke kiblat,
(ujung jari-jari setinggi telinga, ibu jari setentang tempat anting-anting/daun
telinga bagian bawah adalah pilihan Jumhur Ulama; sedang meluruskan jari-jari
berdasarkan hadits dari Abu Hurairah riwayat Al Khamsah; merapatkan jari-jari
disebutkan dalam buku Panduan Shalat Lengkap susunan Al Qohthoni.
Sifat pengangkatan kedua tangan ada 3
sifat:
1.
Lebih dulu mengangkat
tangan dan mengucapkan Takbir (Shahih Muslim No. 343).
2.
Lebih dulu takbir baru
mengangkat tangan (Shahih Muslim)
3.
Mengangkat tangan
bersamaan dengan Takbir (Shahih Bukhori)
Setelah takbir dan mengangkat tangan,
meletakkan tangan di dada, meletakkan pergelangan tangan kanan atas tangan
kiri, menggenggam pergelangan tangan kiri dengan kelingking, jari manis, jari
tengah dan ibu jari sedang telunjuk diulurkan diatas tangan kiri. (HR. Ibn.
Khuzaimah, Abu Daud dan An-Nasai).
Kemudian membaca Do'a Iftitah. Do'a Iftitah ada beberapa
macam; antara lain;
Do'a Iftitah 1:
اللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ،
اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ
اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
Terjemahan:
"Ya
Allah, jauhkanlah antara diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau
jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari segala
kesalahan, sebagaimana kain putih dibersihkan dari segala kotoran. Ya Allah, bersihkanlah aku dari
kesalahan-kesalahan dengan air, embun dan es. (Muttafaq 'alaih, dari Abu
Hurairoh).
Do'a Iftitah 2:
Terjemahnya:
"Allah Maha Besar, Sempurna
Besar, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah pagi dan
petang (dari Ibn Umar, riwayat Muslim).
Do'a Iftitah 3:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ
غَيْرُكَ
Terjemahnya:
"Maha Suci Engkau ya Allah
dengan memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu, Maha Tinggi Kemuliaan-Mu; tidak ada
Tuhan selain Engkau". (H.R. Muslim dengan sanad yang munqothi', dan juga
diriwayatkan al Daruquthni secara maushul dan mauquf dari Umar).
Do'a Iftitah 4:
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ
صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا
أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي
وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ
الْأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا, لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا
إِلاَّ أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ،
تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Terjemahnya:
"Aku hadapkan wajahku/jiwaku kepada Tuhan yang telah mencintakan langit dan bumi, saya suka kepada kebenaran dan berserah diri kepada Allah, aku sekali-kali bukan dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Engkaulah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Dan palingkan/jauhkanlah aku dari kejelekan akhlak dan tidak ada yang dapat menjauhkanku dari kejelekan akhlak kecuali Engkau. Labbaika (aku terus-menerus menegakkan ketaatan kepada-Mu) dan sa’daik (terus bersiap menerima perintah-Mu dan terus mengikuti agama-Mu yang Engkau ridhai). Kebaikan itu seluruhnya berada pada kedua tangan-Mu, dan kejelekan itu tidak disandarkan kepada-Mu2. Aku berlindung, bersandar kepada-Mu dan Aku memohon taufik pada-Mu. Mahasuci Engkau lagi Mahatinggi. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(Hadits dari Ali, riwayat Ahmad, Muslim, Turmudzi, Abu Daud dan lain-lain)
Do`a Iftitah 5:
اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَئِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كاَنُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
Terjemahnya:
“Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau menghukumi/memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (Hadits dari Abd. Rahman bin Auf, riwayat Muslim, Abu Daud, Turmudzi, an Nasai dan Ibn. Majah).
Do`a Iftitah 6:
Penting dicatat/diperhatikan bahwa Rasulullah SAW hanya membaca salah satu Do'a Iftitah dalam satu Sholat (sekali salam), tidak pernah menggabungkan No. 1 dengan No. 2 dan lain-lain.
Do`a Iftitah 6:
Terjemahnya:
"Allah
Maha Besar, sempurna Besar (3x) segala puji bagi Allah sebanyak banyaknya (3x)
Maha Suci Allah selamanya (3x)."
(Hadits
dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im dari ayahnya, riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibn.
Majah dan Ibn. Hibban).
Do'a
Iftitah No. 6 ini dibaca Nabi pada Sholat Sunat.
Do'a
Iftitah No. 5 dibaca Nabi pada Sholat Malam (Qiyamul Lail).
Do'a
Iftitah No. 1, 2, 3, dan 4 dibaca Nabi baik pada shalat Fardhu maupun Sholat
Sunat, dengan catatan do'a yang paling sering dibaca Nabi pada Sholat Fardhu
adalah No. 1 dan yang paling sering dibaca Nabi pada Sholat Tahajjud adalah
No. 4.
Penting dicatat/diperhatikan bahwa Rasulullah SAW hanya membaca salah satu Do'a Iftitah dalam satu Sholat (sekali salam), tidak pernah menggabungkan No. 1 dengan No. 2 dan lain-lain.

0 comments:
Posting Komentar