Indonesia menjadi produsen
karet alam terbesar dunia sampai tahun 1956. Namun kemudian tergeser Thailand
dan Malaysia (Spillane, 1989). Penanganan yang kurang optimal tanaman karet dan
produknya, merupakan pangkal penyebab mundurnya usaha ini. Sejak tahun 1991,
produksi karet Indonesia lebih besar daripada Malaysia dan menjadi produsen
karet nomor dua setelah Thailand. Hal ini bukan disebabkan oleh meningkatnya
mutu dan produktivitas karet Indonesia, tetapi akibat konversi lahan karet yang
terjadi di Malaysia menjadi perkebunan sawit (Gapkindo, 2003).
Tabel 1 Perkembangan Produksi Karet Alam Dunia (2003 – 2005)
No.
|
Negara
|
2003
|
2004
|
2005
|
|||
(000 ton)
|
(%)
|
(000 ton)
|
(%)
|
(000 ton)
|
(%)
|
||
1
|
Thailand
|
2.873
|
36,46
|
2.984
|
34,51
|
2.431
|
33,91
|
2
|
Indonesia
|
1.792
|
22,74
|
2.066
|
23,90
|
1.830
|
25,54
|
3
|
Malaysia
|
986
|
12,51
|
1.169
|
13,52
|
958
|
13,36
|
4
|
RRC
|
380
|
4,82
|
486
|
5,62
|
383
|
5,34
|
5
|
Vietnam
|
384
|
4,87
|
415
|
4,80
|
364
|
5,08
|
6
|
Negara Lain
|
1.465
|
18,60
|
1.526
|
17,65
|
1.202
|
16,77
|
Total (ribu ton)
|
7.880
|
8.646
|
7.168
|
||||
Sumber : International Rubber Study Group, 2006
Indonesia memiliki luas lahan karet yang terbesar di dunia, tetapi jumlah
produk karet kita di bawah Thailand.
Penyebab utama hal ini adalah rendahnya produktivitas perkebunan karet rakyat (smallholders), yang memiliki persentase
terbesar dalam pengusahaan karet di Indonesia. Hal ini sangat mempengaruhi produktivitas
nasional, karena 86 persen dari luas seluruh lahan karet di Indonesia berstatus
perkebunan rakyat. Sisanya merupakan
perkebunan karet milik negara dan swasta, dengan persentase masing-masing
sebesar 6 persen dan 8 persen (Ditjenbun, 2003). Perbandingan luas lahan
menurut status pengusahaan dapat dilihat pada Gambar 1.
Kontribusi jumlah produksi karet Perkebunan Rakyat
adalah yang paling besar dalam total produksi karet seluruh Indonesia yaitu
sebesar 75 persen, namun jumlah produksi ini tidak sebanding dengan luas lahan
yang diusahakan oleh Perkebunan Rakyat
yang mencapai hingga 86 persen dari luas lahan seluruh Indonesia. Hal ini
berbeda dengan Perkebunan Besar Negara dan Perkebunan Besar Swasta, yang
memiliki kontribusi produksi nasional sebesar 13 persen dan 12 persen dengan
penguasaan luas lahan hanya sebesar 6 persen dan 8 persen. Grafik perbandingan
produksi menurut status pengusahaan dapat dilihat pada Gambar 2.
Produsen ban mobil
merupakan konsumen utama produk karet di Indonesia. Pabrik-pabrik ban mobil
tersebut sebagian besar untuk memenuhi permintaan ban mobil dunia. Seluruh pabrik ban mobil di Indonesia hingga saat ini
belum dapat memenuhi permintaan ban mobil di dalam dan luar negeri. Sebuah pabrik ban di Indonesia rata-rata
setahunnya hanya mampu menghasilkan
40.000 ban mobil. Total produksi ban Indonesia saat ini sekitar 100.000 ban
(Muchlis, 2003). Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa konsumsi karet dalam
negeri berhubungan erat dengan permintaan dunia terhadap produk berbahan baku
karet, terutama produk ban mobil.
Peramalan konsumsi
domestik hingga tahun 2010 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Dari grafik di atas kita dapat melihat peningkatan
konsumsi karet domestik yang signifikan dari tahun 2000 ke tahun 2005 sebesar
80 ribu ton, dan dari tahun 2005 ke tahun 2010 sebesar 60 ribu ton. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kegiatan industri yang
memerlukan bahan baku karet di Indonesia, maka akan meningkat pula kebutuhan
karet di Indonesia
yang merupakan pasar yang potensial bagi produksi perkebunan karet.
Pada
subsektor perkebunan, karet merupakan komoditas yang sangat strategis dan
potensial untuk dikembangkan lebih luas, baik sebagai sumber devisa maupun
sumber lapangan kerja bagi petani di perkebunan dan pekerja di sektor industri
pengolahan karet. Sampai saat ini sekitar 3,2 juta keluarga atau lebih dari 16
juta penduduk Indonesia kehidupannya tergantung pada karet (Badan Pusat
Statistik, 2006). Melihat pentingnya peranan komoditi karet alam dalam
perekonomian Indonesia, kita harus terus meningkatkan daya saing produk karet
dan olahannya agar dapat bertahan dan kembali menjadi pemimpin pasar karet
dunia. Pemilihan strategi yang tepat dalam menjalankan usaha karet adalah salah
satu cara yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan daya saing tersebut.


0 comments:
Posting Komentar